Salam sejahtera kami sampaikan, dengan berpegang pada pikiran dan keberanian, kami tulis sepucuk surat bagi pengurus cabang, lebih khusus kepada ketua cabang PMII Tulungagung.
Kami mengaku sebagai Aliansi PMII Tulungagung, turut berduka cita terhadap kemerosotan nilai-nilai Cabang PMII yang dijunjung sahabat-sahabat PMII seluruh dunia, yaitu kecakapan berorganisasi.
Kami ikut bersedih hati atas patahnya salah satu sayap keorganisasian, ditunjukkan dengan tetap melenggang-gemulai pengurusan tanpa peduli terhadap SK yang habis, di karpet merah, di tonton seluruh sahabat, seakan tak terjadi apa-apa.
Tanpa meratapi kondisi tragis yang menimpa Cabang PMII, kami dengan segenap daya-upaya terkepal tangan maju ke muka, untuk turut andil daripada keburukan yang telah hadir senyata-nyatanya di depan mata. Kebuntuan jalan menuju cita-cita yang dijunjung bersama, harus di perbaiki secepat sebisa agar estafet kaderisasi dapat dilanjutkan.
Tanpa menyelam sedalam-dalamnya di danau ketenangan yang menghanyutkan, kami berdiri di atas tanah kemakmuran, membawa semacam surat cinta kepada cabang PMII. Namun, apa bedanya cinta dan benci bila telah tersakiti?
Memperhatikan ;
Organisasi dengan umur 64 tahun tidak bisa di katakan organisasi semacam taman kanak-kanak, menghibur dan menjadi tempat belajar di samping main ayunan. Kami sebagai mahasiswa begitu sadar, akan cita-cita pribadi, maupun kolektif sebagai kemajuan masyarakat.
Namun yang wajib diketahui bahwa Pergerakan kita memiliki cita-cita yang tak remeh, kami kembali ingatkan visi itu ;
"Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia"
Kemudian dengan melihat hasil MUSPIMNAS 2022, nomor 31 Tentang
: RENCANA STRATEGIS PENGEMBANGAN PMII PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA, dalam BAB Refleksi Kaderisasi PMII, yang berisi tiga refleksi ;
1. Mengantisipasi munculnya otonomi gerakan yang berimplikasi tidak akan jalannya disiplin kesamaan gerak, ideologi dan cara pandang dalam mencapai tujuan organisasi.
2. Mengantisipasi liberalisasi organisasi yang akan berakibat pada lemahnya komando, instruksi.
Yang ketiga sengaja tak kami tulis, dikarenakan dalam 2 pasal di atas sudah tercukupi sebagai tindakan reflektif bagi gerakan PMII. Lalu hasil MUSPIMNAS bicara pada paragraf selanjutnya, bahwa perdebatan PMII tentang organ kiri atau kanan, masuk pemerintah atau luar pemerintah harus dihentikan. Lalu di paragraf terakhir, hasil MUSPIM menggaris bawahi bahwa kebutuhan akan disiplin organisasi diperketat, di samping sudah saatnya organisasi menjadi tempat pembelajaran yang efektif dalam banyak hal.
Menilik dari apa yang kami sampaikan, garis besar dari yang kami perhatikan adalah disiplin organisasi cabang yang begitu kendor, teledor, loyo, dan bahkan amburadul. Mengingat bahwa masa jabatan cabang telah habis, namun dianggap masih ada, di terus-teruskan hingga surat ini kami buat.
Kami dengan akal terbuka menyampaikan akan keledoran pengurus cabang, yang tak becus menjadi jalan bagi para kader menempuh proses mereka dalam PMII, akibat keteledoran cabang yang kami rasa menganggap enteng kaderisasi formal yang kami adakan. Dengan tanda instruktur dari cabang begitu sulit di cari, pada beberapa kasus yang kami temukan.
Kami sampaikan dengan damai, bahwa keloyoan cabang periode ini, tampak dengan tiadanya agenda MUSPIMCAB, yang kami rasa begitu penting dalam melihat juga menindak lanjuti, apa-apa yang menjadi resah bagi masyarakat, setidaknya di dalam tubuh organisasi sendiri.
Keadaan ini seakan memposisikan kader se-Tulungagung di atas kapal yang telah rusak, di kapak oleh nakhoda sendiri, dan selalu bilang "kita akan sampai tujuan". Kami tegaskan, bahwa girah telah luntur dengan melihat hilangnya pengurus organisasi cabang PMII, dalam keikutsertaan mendayung kapal bersama ini, menuju cita-citanya.
Dengan menimbang ;
Kami sebagai aliansi PMII Tulungagung, membentuk barisan di depan sahabat yang dulu menjadi mentor, sekaligus guru bagi kami. Barisan ini membawa niat baik kepada sahabat cabang, sebab perlukah pertumpahan darah di zaman modern, dengan paradigma humanisme universal, serta kerinduan terhadap perdamaian abadi.
Tanggung jawab menjadi kata dalam rangkaian cita-cita PMII, yang di emban di bahu bersama. Dengan dasar kebebasan berpendapat, menyampaikan gagasan, kami sebagai Aliansi PMII Tulungagung membawa kabar kepada sahabat cabang, bahwa kepentingan diri jangan sampai meludahi kebersamaan dalam menuju cita-cita bersama pula.
Kami menuntut ;
Dengan mengingat serta menimbang pada apa yang telah kami sampaikan. Kami Aliansi Pergerakan mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tulungagung menuntut Cabang PMII Tulungagung untuk ;
1. Mendesak segera diadakan KONFERCAB dengan tenggat waktu sampai tanggal 17 Mei 2024.
Dalam kurung waktu 1 x 24 jam tidak ada respons lewat surat pemberitahuan resmi terkait KONFERCAB. Maka akan di selenggarakan KONFERCAB Luar Biasa
