MAPABA Raya Komisariat UIN SATU Tulungagung: Berkualitas, Pergerakan Tanpa Batas

Doc. Komisariat PMII Tulungagung ketika selesai penutupan 

PMII Berkualitas, Pergerakan Tanpa Batas— bukanlah tema sembarang tema bagi terlaksananya MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru) yang diadakan PMII Komisariat UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Tema ini adalah harapan sekaligus aksi bagi para kader rayon-rayon di bawah naungan PMII Komisariat UIN SATU Tulungagung, sebagai landasan bahwa kuantitas anggota bukanlah acuan utama bagi pergerakan, tapi juga kualitas. Begitulah kira-kira yang diungkapkan Wakil Presma UIN SATU, Sahabat Abdurrahman ketika acara MAPABA, seusai baiat.

Lima materi dasar, 77 peserta, dari jam 09.00 pagi hingga materi terakhir pada pukul 22.33 malam, Sabtu, 2 Maret 2024 hingga Minggu, 3 Maret 2024. Dua kali makan, siang dan malam adalah salah satu acara yang tak akan penulis lupa untuk dicantumkan, menggunakan kertas minyak dijejer di keramik memanjang, nasi dan lauk yang siap disantap, mie dan telor menjadi kudapan peserta, agar tak pingsan dan sakit.

Peserta MAPABA, bukan hanya dari internal UIN SATU. Ada yang berasal dari eksternal juga seperti dari UNESA Surabaya, Trenggalek, dan Kediri, ungkap ketua pelaksana MAPABA, Sahabat Rijal. Sahabat Rijal juga mengungkapkan terkait jumlah banyaknya peserta– karena sebelum hari pelaksanaan, peserta yang mendaftar hanya sebanyak 16 pendaftar ialah karena kader-kader dari rayon se-UIN SATU ternyata belum tertampung semuanya dalam MAPABA rayonnya masing-masing. Sehingga ketika hari H, banyak sekali yang mendaftar untuk mengikuti kaderisasi formal ini.

Setelah materi berakhir, para peserta diarahkan untuk berkumpul dengan membuat lingkaran sesuai rayon masing-masing peserta. Acara ini dinamakan pemantapan yang bertujuan untuk memberikan gambaran bahwa setelah MAPABA Raya yang digelar oleh komisariat, mereka akan kembali pada rayon masing-masing untuk berproses. Begitu kira-kira yang dikatakan Sahabat Calvin, salah satu anggota sie acara. Hal tersebut senada juga dengan yang dikatakan Sahabat Asep ketika berbicara setelah membaiat para peserta selaku perwakilan ketua cabang PMII Tulungagung; “Sahabat-sahabat, proses kalian masih panjang. MAPABA ini hanyalah pintu masuk, dalam rumah besar PMII. Oleh sebab itu, dengan nilai-nilai dan pengetahuan yang sahabat tempa dalam organisasi ini, jangan sampai lupa untuk mengaktualisasi pada kehidupan sehari-hari, sebab dari detik ini, setelah ucap baiat malam ini, darah kalian, adalah darah PMII”.

Tidak kalah, Sahabat Aris sebagai ketua komisariat UIN SATU Tulungagung juga menganalogikan MAPABA ini adalah lepas pantai, yang mengarah pada lautan luas. Dengan PMII adalah kapal, dan rayon sebagai kamar-kamar tempat belajar, pasti ada kalanya gelombang akan membanting kapal, membalik kapal, dan bahkan menghancurkan kapal, ketika para kader tak berproses dengan tekun dan rajin di tengah lautan yang luas.

Tanggapan dari peserta yang diwawancarai oleh penulis adalah MANTAB. Peserta yang tidak ingin disebutkan namanya tersebut mengaku kaget sekaligus terharu dapat tergabung dalam keluarga PMII, dengan harapan baik, untuk sekitar dan alam semesta. Hal itu diungkapkannya dengan mata berbinar ketika diwawancarai oleh penulis sambil berdiri setelah pelaksanaan baiat di halaman musala Ponpes Darunnajah, Ngadirogo, Podorejo, Kec. Sumbergempol, Kab. Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.

Penulis: Alfin

Editor: Putri

Lebih baru Lebih lama