Tikus Rokyat
Mengurai Narasi Indonesia Gelap & KaburAjaDulu
Wacana terkait narasi "Indonesia Gelap" muncul sebagai sebuah respons terhadap kebijakan pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Sejak 17 Februari 2025, tagar #IndonesiaGelap mulai trending di media sosial X, mengumpulkan lebih dari 81. 900 cuitan yang mengangkat berbagai permasalahan yang dianggap tidak mendukung masyarakat. Aksi "Indonesia Gelap" yang dilakukan oleh Aliansi Mahasiswa Indonesia (BEM SI) menyampaikan 13 tuntutan utama kepada pemerintah, dengan fokus pada isu-isu yang merugikan masyarakat. Tuntutan tersebut antara lain menjamin pendidikan gratis dan bermutu bagi semua, memperjuangkan reforma agraria sejati, menolak revisi UU Minerba, dan menghapus peran ganda militer dan polisi dalam politik dan bisnis. Tuntutan lainnya adalah mengakui hak-hak masyarakat adat melalui peraturan perundang-undangan yang jelas, mencabut instruksi presiden yang berdampak pada anggaran pendidikan, dan mengevaluasi kembali program gizi yang tidak efektif. Selain itu, mereka menuntut pendanaan yang memadai untuk tunjangan profesor, peraturan perampasan aset yang adil, menolak revisi undang-undang yang memperkuat kekuasaan aparat keamanan, menuntut efisiensi pemerintah dan evaluasi kabinet, menolak perubahan aturan DPR yang dapat mengurangi transparansi, dan menyerukan reformasi kepolisian untuk meningkatkan integritas dan profesionalisme. Tuntutan-tuntutan tersebut mencerminkan kekhawatiran mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak menguntungkan rakyat dan mengancam demokrasi. (Laudia Tsyara, 2025)
Indonesia Gelap Sebuah Dialektika Gagasan "Pencarian Pencerahan"
Sayangnya respon terhadap narasi indonesia gelap. Disalah pamahmi oleh beberapa pejabat RI. Narasi tersebut sebuah bentuk representatif dan satire, suara tersebut dilontarkan oleh kalangan mahasiswa dan pemuda sebagai bentuk upaya untuk menemukan "Dialektik Pencerahan", Marx Horkheimer, dalam karya terkenalnya "Dialectic of Enlightenment" yang ditulis bersama Theodor W. Adorno dan diterbitkan pada tahun 1947, membahas klaim bahwa pencarian sistematis atas akal dan kebebasan yang tercerahkan membawa dampak ironis yang berkepanjangan, melahirkan bentuk-bentuk baru dari rasionalitas dan penindasan. Ditulis di tengah bayang-bayang rezim Hitler di Jerman dan Stalin di Rusia, buku ini mengungkapkan bahwa terdapat logika tersembunyi di balik rasionalitas pencerahan, yang sejatinya merupakan logika dominasi dan penindasan. (Anna KurniWati, dkk. 2021)
Dalam "Dialectic of Enlightenment", Horkheimer berupaya mengidentifikasi penyebab kegagalan usaha manusia yang dianggap rasional, yang juga ia bahas dalam karya sebelumnya, "Eclipse of Reason". Usaha manusia rasional selalu diarahkan untuk menghapus segala yang bersifat mitos. Mitos diartikan sebagai upaya manusia dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang alam semesta dan keberadaan dirinya sendiri, seperti yang tertulis dalam literatur Yunani. Dalam mitologi Yunani, dijelaskan bahwa pertanyaan manusia mengenai fenomena alam semesta sudah mendapatkan jawaban, namun jawaban tersebut disampaikan dalam bentuk mitos. Oleh sebab itu, mitos bisa dipahami sebagai suatu irasionalitas atau takhayul, yaitu gagasan atau keyakinan yang berada di luar kontrol kesadaran dan rasio manusia. Narasi "Indonesia Gelap" mencerminkan ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil, menunjukkan bahwa ketidakadilan tersebut merupakan hasil dari struktur kekuasaan yang lebih besar. Indonesia gelap merupakan narasi perlawanan terhadap Mitos- mitos dalam progam- progam Kabinet Merah Putih yang mengutamakan rakyat tapi malah menindas rakyat itu sendiri. Tepatnya terkait progam MBG yang penuh kritik dan evaluasi seperi; Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan evaluasi menu setiap 20 hari untuk memastikan keberagaman dan kualitas makanan bagi siswa. Banyaknya problematika, terkait penyelenggaraan, ketimpangan sosial, anggaran dan kualitas makanan yang disajikan menuai kritik terhadap pemerintahan saat ini. Konflik sosial yang muncul seperto konflik UMKM (Kantin) dengan penyelenggara Progam MB. Perlunya juga mendorong agar program MBG melibatkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) setempat dalam penyediaan bahan pangan, memberikan manfaat ekonomi lokal. Pemerintah dinilai gagap dalam mendidik rakyat dengan pendidikan seutuhnya. Progam utama tersebut masih banyak diselubungi mitos- mitos baru yang lahir dari kegelapan, yang harus dibuka dengan keterbukaan, dan penecerahan menjadikan manusia indonesia yang rasional. (Hammam Izudin, 2025)
Kemudian muncul ditengah- tengah konflik sosial itu, yakni narasi #KaburAjaDulu sebuah kekecewaan dan ketidaknyamanan berada dalam negara sendiri. Tagline ini melambangkan suara bagi mereka yang merasa frustrasi dan ingin mengekspresikan ketidakpuasan terhadap isu-isu penting, seperti pendidikan, kebebasan berpendapat, dan transparansi pemerintah. Melalui penggunaan tagar ini, masyarakat berusaha menyuarakan harapan akan perubahan dan mengekspresikan ketidakpuasan mereka dengan cara yang lebih kreatif serta mudah diakses melalui media sosial. Tagar ini mencoba mengurai polemik kerja di Indonesia.
Yang pertama Kenaikan UMP sebesar 6,5% untuk tahun 2025 telah diumumkan oleh pemerintah. Meskipun perubahan ini dianggap sebagai langkah positif bagi para buruh, sejumlah pihak berpendapat bahwa kenaikan tersebut mungkin akan sia-sia, mengingat adanya rencana untuk menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12%. Serikat buruh mengkhawatirkan bahwa kenaikan PPN akan mengurangi daya beli masyarakat dan membuat upah yang lebih tinggi tidak berarti. Kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) di tengah tantangan ekonomi yang berat dapat berpotensi mengurangi daya saing industri padat karya. Para pengusaha mengemukakan bahwa jika biaya tenaga kerja meningkat tanpa disertai dengan peningkatan produktivitas, hal ini dapat mengakibatkan kehilangan lapangan pekerjaan. (Ucy Sugiarti, 2024)
Yang kedua permasalahan budaya cari kerja yang ribet dengan gaji yang relatif kecil daripada negara lainya. Prasayarat yang tidak masuk di otak menjadikan mitos- mitos baru dalam mencari pekerjaan. Seperti harus goodloking, tinggi 160 cm, menguasai elemen a atau b. Sangat ironi sekali, kurangnya wawasan edukasi literasi dalam dunia kerja. Jarang sekali ada perusahaan atau dunia kerja yang membuat prsyarat kerja seperti membuat essai pengalaman kerja, kemampuan bahasa, atau kemampuan riset, jarang sekali ditemukan di indonesia ada singkronisasi antara peneliti & praktisi untuk berupaya membangun ekosistem kerja yang inovatif.
Mesin- Mesin Anti Pencerahan
Dalam tubuh kabinet sekarang yang sering dikatakan kabinet gemoy (paling banyak) ada mesin besar dari tiga kelompok besar yang berkepentingan diatas bangsa ini. Pertama mesin perubahan segerombolan kaum- kaum revolusionerik yang berusaha memberikan pencerahan dan perubahan mendasar pada kehidupan bangsa dan bernegara. Kedua Mesin anti pencerahan atau perubahan, seklompok orang dengan segala cara termasuk kaum machiavelillan yang menghambat proses perubahan. Yang ketiga adalah Mesin Opportunis, sekelompok orang yang hanya mengambil keuntungan dari berbagai konflik yang tercipta. Perkelahian dari mesin diatas menghasilkan Indonesia Gelap atau Horrosophy sebuah wacana yang tumbuh diatas bangsa ini, pikiran- pikiran kotor, siasat- siasat licik, rencana- rencana jahat, ide menyeramkan, konsep- konsep mengerikan yang mendirikan bulu roma untuk dipraktikkan sebagai strategi politik dan kekuasaan yang pada akhirnya menimbulkan kekerasan. Pembungkaman kritik terhadap salah satu band, juga bentuk wacan ini berkembang. Untuk menghindari bangsa ini dari keadaan tersebut perlu reformasi toral dan sebuah "pencerahan nasional" berskala kolosal yang digerakan segala lini kehidupan berbangsa dan bernegara: perubahan budaya, mindset, etos kerja, mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebagai suatu tujuan bersama kolektif yang harus di inisiasi. Sekian, Wassalamualaikum wr wb.
Penulis: Krisna Wahyu Yanuar
Co Daya Guna PMII Komisariat UIN SATU
Edit by: Atmadja
Daftar Pustaka
Anna Kurniawati, dkk. (2021). "Teori Kritis dan Dialektika Pencerahan Max Horkheimer", JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, ISSN. 2442-6962, Vol. 10 No. 2, Hal. 124- 135.
Ucy Sugiarty. (2024). "Kenaikan UMP 6,5% di Tengah Polemik PPN Naik, Solusi atau Beban Baru?' Goodstas: https://goodstats.id/article/kenaikan-ump-6-5-di-tengah-polemik-ppn-naik-solusi-atau-beban-baru-t2yTp
Hammam Izuddin. (2025). "BGN akan Evaluasi Menu Makan Bergizi Gratis Tiap 20 Hari, Istana: Agar Siswa Tahu Makanan Indonesia Beragam", Tempo.com: https://www.tempo.co/ekonomi/bgn-akan-evaluasi-menu-makan-bergizi-gratis-tiap-20-hari-istana-agar-siswa-tahu-makanan-indonesia-beragam-1196972
Laudia Tayara. (2025). "Setelah Aksi Puncak 'Indonesia Gelap', Ini Rencana Lanjutan BEM SI", Liputan 6 .com: https://www.liputan6.com/hot/read/5927529/setelah-aksi-puncak-indonesia-gelap-ini-rencana-lanjutan-bem-si
